WWW: Inferior

Juni 11, 2008 at 7:19 pm | In WWW | Leave a Comment
Tags:

Melihat Communicator yang dimiliki oleh orang yang cuma bisa SMS sama miscal aja –ga bisa telepon soalnya nggak punya pulsa– betul-betul sesuatu yang… tidak enak dilihat. Ganjil. Tapi lebih ganjil lagi melihat orang yang lumpuh dan harus duduk di kursi roda selamanya tapi punya koleksi sepatu yang super lengkap.

Dala melihat orang tersebut secara langsung ketika dia sedang menemani sahabatnya, Melin, di toko sepatu. Pelayan toko tampak sudah kenal dengan orang itu, yang ternyata bernama Benil.


Penampilan Benil tidak terlalu buruk, dia mengenakan kaos putih dengan lambang PUMA dan jaket tim nasional Jerman. Wajahnya lonjong dan badannya kurus, meskipun sebenarnya tidak terlalu terlihat karena dia cuma duduk saja di kursi rodanya. Warna kulitnya cukup putih, Dala menarik kesimpulan bahwa hal itu disebabkan karena orang tersebut tidak terlalu suka pergi keluar rumah karena merepotkan.

Terkadang seseorang tidak menyadari kalau dia membuang-buang sesuatu yang berharga untuk mendapatkan sesuatu yang tidak berharga. Melin adalah salah satunya. Setelah mendapatkan pengakuan dari komunitas gamer bahwa dia adalah gamer yang sangat kompeten, Melin menghabiskan waktunya dengan duduk di depan komputer. Berlatih dengan teman-temannya yang ada di ujung jaringan internet.

Dala adalah mahasiswi yang dianggap paling pandai dalam bidang akademis di fakultasnya. Di semester sebelumnya, gelar ini dipegang oleh Melin, yang pada saat itu belum mengenal game online. Prestasi akademik ditukar dengan pengakuan dari komunitas. Sebetulnya ini adalah transaksi yang buruk.

Melin sebenarnya orang yang tidak mau merasakan kekalahan. Karena dia merasa kehilangan kekuatan setelah posisinya sebagai orang paling pintar digeser oleh Dala, dia berusaha mendapatkan pengakuan bahwa dia pintar lewat jalur non-akademis, karena sudah tidak mungkin lagi mengalahkan Dala. Dengan deretan nilai D, D+, dan C selama satu semester, tampaknya Melin tahu bahwa dia tidak mampu mengalahkan straight-A yang diperoleh Dala.

Entah berapa juta uang yang dihabiskan Melin untuk membayar biaya internet, listrik, dan voucher game yang tidak murah. Pengeluaran yang sudah besar ini semakin membengkak lagi, karena sekarang dia mengeluarkan uang beberapa juta untuk mengikuti training grafologi.

Dalam teori Individual Psychology milik Adler, manusia selalu mengalami perasaan inferior. Bahkan dia berkata lebih jauh lagi bahwa kita menjadi manusia karena memiliki perasaan inferior.

Ini yang terjadi pada Melin.

Perasaan inferior memang sangat berbahaya jika individu tidak menanganinya dengan benar. Pada dasarnya orang akan berusaha untuk mengkompensasi perasaan inferior itu dengan berusaha untuk menjadi individu yang lebih baik lagi. Namun terkadang usaha untuk menjadi orang yang lebih baik ini justru malah menjerumuskan orang tersebut menjadi orang yang lebih buruk daripada sebelumnya.

Salah satu argumen yang mengalami kerancuan berpikir adalah argumen yang menyatakan kalau si lawan bicara adalah orang bodoh kalau dia tidak sejalan dengan si pembicara. Ini sering dilakukan oleh orang-orang yang merasa putus asa untuk mendapatkan pengakuan kalau dia benar. Entah hal apa yang membuat dia merasa sangat inferior.

Dala, seperti juga halnya orang-orang yang berperasaan, merasa kasihan dengan orang-orang seperti itu. Karena itulah dia tidak melawan ketika Melin mengatakan bahwa Dala adalah orang bodoh karena mencela training grafologi yang sudah dia ikuti. Rasa kasihan membuat Dala tidak tega mengatakan kebenaran.

No Comments Yet »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.