WWW: Dentist
Juli 9, 2008 at 10:54 pm | In WWW | Leave a CommentTags: WWW
Ada nuansa ingin muntah yang terjadi tanpa henti di dalam mulutku. Kepergianku ke dokter gigi menyebabkan hal ini, rasanya sama sekali tidak menyenangkan. Gigi memang merepotkan. Kita harus merawatnya, atau kita akan berhadapan dengan bor dokter gigi. Tidak sakit sih, tapi sangat, sangat, sangat ngilu dan habis itu rasanya geli. Seperti ada sesuatu yang menggelitik di dalam kepala dan kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghilangkannya.
Tidak seperti biasanya, dokter gigi langgananku sedang laris. Biasanya bahkan dia tidak ada di tempat praktek, aku harus menelpon rumahnya dulu, baru dia datang ke tempat prakteknya. Tapi kali ini aku harus menunggu giliran di belakang 2 pasien lain. Bahkan, pada saat giliranku tiba, muncul lagi 1 pasien.
Berbeda dengan dokter lain yang penyakitnya mendesak, ternyata orang-orang suka mengulur-ngulur waktu untuk pergi ke dokter gigi. Hasilnya, praktek dokter gigi penuh di waktu liburan. Mungkin mereka takut giginya malah akan semakin sakit dan mengganggu pekerjaan mereka. Cuma sakit gigi dan kepala sedikit, gak bakal mati kok. Mungkin itu yang ada di pikiran mereka.
Padahal kalau dibiarkan terus, gigi bisa membusuk dan harus diangkat. Ini sangat-sangat-sangat menyebalkan. Karena biayanya tidak murah dan gigi kita tidak bisa tumbuh lagi. Tidak sakit sih, biasanya kita diberi bius lokal dulu. Biasanya setelah gigi kita dicabut kita akan mengalami pendarahan mulut yang sangat parah.
Untung ada kapas. Fiuh.
Aku tidak pernah melihatnya secara langsung, tapi apa yang terjadi dengan orang yang giginya hancur dalam perkelahian? Apa dokter bisa secara ajaib memperbaiki giginya? Atau harus dicabut sekalian? Kelihatannya yang kedua lebih mungkin. Itu sebabnya banyak orang yang ompong dengan jelek sekali, di bagian depan gigi.
Ngomong-ngomong, di kampus sekarang ada fakultas kedokteran gigi. Luar biasa memang. Berarti kalau kita periksa gigi ke poliklinik kampus, kita bakal diperiksa dengan mahasiswa. Coba bayangkan kalau dia tiba-tiba terpeleset dengan sangat ceroboh dan gigi kita terbelah dua (nggak mungkin sih). Tapi tetap saja kita berpikir dua kali sebelum periksa gigi di poliklinik itu lagi.
No Comments Yet »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.


